ELASTISITAS PERMINTAAN DAN PENAWARAN
|
Pengantar
Ilmu Ekonomi
Dosen : Fikri Tamau, M. IP.
Oleh :
ADELIA NURFITRIANINGSIH
NIM : 1710411168
NIM : 1710411168
JURUSAN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA
KATA PENGANTAR
Segala
puji bagi Tuhan Yang Maha Esa tanpa pertolongan-Nya mungkin penyusun tidak akan
sanggup menyelesaikan makalah ini dengan baik. Adapun makalah ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Ilmu Ekonomi. Makalah ini pun disusun agar pembaca
dapat mengetahui tentang materi ekonomi mengenai elastisitas permintaan dan
penawaran. Makalah ini disusun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik
itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan
penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat
terselesaikan.
Penyusun
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Hanya kepada Allah
SWT kita kembalikan semua urusan dan semoga makalah ini dapat bermanfaat
khususnya bagi penulis dan sahabat lainnya, semoga Allah meridhoi dan dicatat
sebagai ibadah disisi-Nya. Dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi yang
membacanya.
Jakarta, 16 September 2017
Penyusun
DAFTAR ISI
Kata Pengantar
.......................................................................................1
Daftar Isi..................................................................................................2
BAB I
Pendahuluan
BAB II
Perumusan
Masalah .........................................................................3
Pertanyaan
Penelitian........................................................................4
BAB III.
Kerangka
Teori...................................................................................4
Pembahasan.......................................................................................4
Analisa
Kasus....................................................................................13
BAB IV
Kesimpulan........................................................................................15
Daftar Pustaka...................................................................................15
BAB
I
·
Pendahuluan
Dalam analisis
ekonomi, secara teori maupun di dalam praktek. Adalah sangat berguna untuk
mengetahui sampai di mana responsifnya permintaan terhadap perubahan harga.oleh
sebab itu dikembangkan suatu pengukuran kuantitatif yang menunjukan sampai di
mana besarnya pengaruh perubahan harga ke atas perubahan permintaan. Ukuran kuantitatif
tersebut dinamakan elastisitas permintaan.
Juga perubahan
harga menimbulkan akibat yang berbeda ke atas jumlah penawaran berbagai barang,
dan ukuran kuantitatif daripadaakibat perubahan harga kepada perubahan jumlah
barang yang ditawarkan dinamakan elastisitas penawaran.
Salah
satu pokok bahasan yang paling penting dari aplikasi ekonomi adalah
elastisitas. Pemahaman elastisitas dari permintaan dan penawaran yakni
apa yang akan terjadi terhadap permintaan dan penawaran jika ada
perubahan harga, seperti apa bentuk kurva dari masing masing elastisitas, dan
seberapa besar pengaruhnya.
Dengan
adanya pemahaman elastisitas tersebut kita dapat mengukur sejauh mana pembeli
dan penjual bereaksi terhadap perubahan kondisi yang ada. Kondisi yang dimaksud
berkaitan dengan perubahan harga atau dengan kata lain, elastisitas merupakan
derajat kepekaan permintaan dan penawaran
terhadap perubahan harga.
Oleh
karena itu Elastisitas merupakan ukuran sejauh mana pembeli dan penjual
bereaksi terhadap perubahan kondisi yang ada. Kondisi yang dimaksud berkaitan
dengan perubahan harga. Dengan kata lain, elastisitas merupakan derajat
kepekaan permintaan dan penawaran
terhadap perubahan harga.
BAB II

Industri
rokok merupakan industri terbesar penyerap tembakau di Indonesia. Industri
rokok dan sektor tembakau memberikan keuntungan ekonomi yang sangat besar.
Keuntungan ekonomi tersebut adalah berupa penyediaan lapangan pekerjaan.
Meskipun industri rokok dan sektor tembakau memberikan keuntungan ekonomi yang
besar, rokok juga mempunyai dampak negatif. Dampak negatif tersebut merupakan
efek negatif dari mengkonsumsi rokok. Konsumsi rokok dapat meningkatkan resiko
kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin.
Pemerintah
berusaha mengendalikan dampak negatif dari konsumsi rokok. Salah satu upaya
pemerintah dalam pengendalian dampak negatif dari konsumsi rokok ini adalah
dengan penetapan tarif cukai rokok. Setiap tahun, pemerintah meningkatkan tarif
cukai rokok ini. Kenaikan tarif cukai rokok tiap tahun ini menyebabkan dampak
negatif tersendiri.

Apakah pengaruh kenaikan tarif
cukai rokok terhadap penawaran, permintaan dan harga dari komoditas rokok?
BAB III

·
Menurut McEachern,
elastisitas adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur tingkat kepekaan
konsumen dan produsen terhadap perubahan harga.
·
Menurut Faried Wijaya,
secara umum elastisitas menunjukkan seberapa respon suatu variabel akibat
dari perubahan variabel atau salah satu variabel lain yang mempengaruhinya.
·
Menurut Nicholson,
elastisitas merupakan ukuran persentase perubahan pada satu variabel yang
disebabkan oleh perubahan satu persen pada variabel lain

1. ELASTISITAS PERMINTAAN
A. Pengertian
Elastisitas Permintaan
Secara
sederhana elastisitas dapat diartikan sebagai derajat kepekaan suatu gejala
ekonomi terhadap perubahan gejala ekonomi lain. Pengertian lain elastisitas
dapat diartikan sebagai tingkat kepekaan perubahan kuantitas suatu barang yang
disebabkan oleh adanya perubahan faktor-faktor lain.
Elastisitas
permintaan adalah suatu pengukuran kuantitatif yang menunjukkan sampai di mana
besarnya pengaruh perubahan harga terhadap perubahan permintaan. Ketika harga
sebuah barang turun, jumlah permintaan terhadap barang tersebut biasanya naik
sedangkan semakin rendah harganya, semakin banyak benda itu dibeli. Elastisitas
permintaan ditunjukan dengan rasio persen perubahan jumlah permintaan dan
persen perubahan harga.
B. Jenis-Jenis
Elastisitas Permintaan
Koefisien
|
Elastisitas
|
n = 0
|
Inelastis sempurna
|
0 < n
< 1
|
Inelastis
|
n = 1
|
Elastis
uniter
|
1 < n
< ∞
|
Elastis
|
n = ∞
|
Elastis
sempurna
|
a) Permintaan
Inelastis Sempurna (Ed = 0)
Permintaan
Inelastis Sempurna terjadi jika tidak ada perubahan jumlah yang diminta
meskipun ada perubahan harga, atau ΔQd = 0, meskipun ΔP ada. Secara matematis
%ΔQd = 0, berapapun %ΔP. Dengan kata lain perubahan harga sebesar apapun sama
sekali tidak berpengaruh terhadap jumlah yang diminta. Kasus permintaan
inelastis sempurna terjadi bila konsumen dalam membeli barang tidak lagi
memperhatikan harganya, melainkan lebih memperhatikan pada seberapa besar
kebutuhannya. Contoh: Pembelian Garam dapur oleh suatu keluarga atau pembelian
Obat ketika sakit. Konsumen membeli garam atau obat lebih mempertimbangkan
berapa butuhnya, bukan pada berapa harganya.
b) Permintaan
Inelastis (Ed < 1)
Permintaan
Inelastis kalau perubahan harga kurang begitu berpengaruh terhadap perubahan
kuantitas barang yang diminta. Dengan kata lain kalau persentase perubahan
jumlah yang diminta relatif lebih kecil dibanding persentase perubahan harga.
Secara matematis %ΔQd < %ΔP. Permintaan Inelastis atau sering disebut
Permintaan yang tidak peka terhadap harga, misal harga berubah naik 10% maka
perubahan permintaannya akan turun kurang dari 10%. Elatisitas kurang dari satu
biasanya terjadi pada barang-barang kebutuhan pokok seperti gula, pupuk, bahan
bakar dan lain-lain.
c) Permintaan
Elastis Uniter (Ed = 1)
Permintaan
Elastis Uniter kalau perubahan harga pengaruhnya sebanding terhadap perubahan
kuantitas barang yang diminta. Dengan kata lain persentase perubahan jumlah
yang diminta sama dengan persentase perubahan harga. Jadi kalau harga berubah
turun sebesar 10% maka kuantitas yang diminta juga akan berubah dalam hal ini
akan naik sebesar 10%. Secara matematis %ΔQd = %ΔP. Permintaan yang elastis
uniter atau yang elastis proporsional atau yang Ed tepat = 1 sulit ditemukan
dalam kehidupan sehari-hari, kalaupun terjadi sebenarnya hanyalah secara
kebetulan.
d) Permintaan
Elastis (Ed > 1)
Permintaan
Elastis kalau perubahan harga pengaruhnya cukup besar terhadap perubahan
kuantitas barang yang diminta. Dengan kata lain persentase perubahan jumlah
yang diminta relatif lebih besar dari persentase perubahan harga. Jadi kalau
harga turun 10% maka kuantitas barang yang diminta akan mengalami kenaikan
lebih dari 10%. Secara matematis %ΔQd > %ΔP. Permintaan yang elastis atau
peka terhadap harga (Ed >1) dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari
biasanya terjadi pada barang-barang mewah, seperti mobil, alat-alat elektronik,
pakaian pesta dan lain-lain.
e) Permintaan
Elastis Sempurna (Ed = ∞ )
Permintaan
Elastis Sempurna terjadi jika ada perubahan jumlah yang diminta meskipun tidak
ada perubahan harga, atau ΔQd = Ada perubahan, meskipun ΔP = 0 (Tidak ada
perubahan harga). Secara matematis %ΔQd = Ada, %ΔP = 0. Kasus permintaan
elastis sempurna terjadi pada bila permintaan suatu barang dapat berubah-ubah
meskipun harga barang tersebut tetap. Contoh kasus ini bisa terjadi pada
berbagai produk, yang jelas kalau permintaan akan produk tersebut bisa
berubah-ubah walaupun harga produk itu tetap.
C. Faktor-Faktor
Yang Mempengaruhi Elastisitas Permintaan
a) Tingkat
kebutuhan
Apabila
kebutuhan terhadap suatu barang sangat penting, perubahan harga tidak
mempengaruhi jumlah permintaan, maka permintaan terhadap barang ini bersifat
inelastic, sebaliknya bila kebutuhan terhadap suatu barang kurang penting, maka
permintaan bersifat elastis.
b) Banyaknya
barang pengganti yang tersedia.
Sekiranya
sesuatu barang mempunyai banyak barang pengganti, permintaanyya cenderung untuk
bersifat elastis. Maksudnya, perubahan harga yang kecil saja akan menimbulkan
perubahan yang besar terhadap permintaan. Pada waktu harga naik para pembeli
akan merasa enggan membeli barang tersebut, mereka lebih suka menggunakan
barang-barang lain sebagai penggantinya, yang harganya tidak mengalami
perubahan. Sebaliknya pada waktu harga turun, para pembeli melihat bahwa barang
tersebut lebih mudah daripada barang-barang penggantinya dan beramai-ramai
membeli barang tersebut dan ini menyebabkan permintaannya bertambah dengan
cepat.
Permintaan
terhadap barang yang tidak banyak mempunyai barang pengganti adalah bersifat
tidak elastis, karena jika harga naik para pembelinya sukar memperoleh barang
pengganti dan oleh karenanya harus tetap membeli barang tersebut, oleh sebab
itu permintaannya tidak banyak tambahan pembeli yang pindah dan jika harga
turun permintaannya tidak banyak bertambah karena tidak banyak tambahan pembeli
yang pindah dari membeli barang yang bersaingan dengannya. Dari uraian di atas
dapatlah dibuat rumusan berikut: semakin banyak jenis barang pengganti terhadap
sesuatu barang, semakin elastis sifat permintaannya.
c) Persentasi
pendapatan yang dibelanjakan.
Besarnya
bagian pendapatan yang digunakan untuk membeli sesuatu barang dapat
mempengaruhi elastisitas permintaan terhadap barang tersebut/. Perhatikanlah
sikap orang dalam membeli barang-barang yang sangat murah harganya. Jika
seseorang itu sudah menyukai suatu jenis minuman ringan tertentu, kenaikan
harga minuman tidak akan banyak mempengaruhi permintaannya. Tetapi
perhatikanlah permintaan terhadap barang-barang yang agak mahal. Sebelum
memutuskan untuk membeli sesuatu orang akan membandingkan harga dari berbagai
jenis barang yang diinginkan. Perbedaan harga dapat menyebabkan orang
membatalkan untuk membeli barang dari suatu merek tertentu dan membeli merek lain
yang lebih murah. Jadi dapat dikatakan bahwa semakin besar bagian pendapatan
yang diperlukan untuk membeli sesuatu barang, semakin elastis permintaan
terhadap barang tersebut.
d) Jangka waktu
analisis.
Semakin
lama jangka waktu di mana permintaan itu dianalisis, semakin elastis sifat
permintaan suatu barang. Dalam jangka waktu yang singkat permintaan besifat
lebih tidak elastis karena perubahan-perubahan yang baru terjadi dalam pasar
belum diketahui oleh permbeli. Oleh sebab itu mereka cenderung untuk meminta
barang-barang yang biasa dibelinya walaupun harganya mengalami kenaikan. Dengan
demikian dalam jangka waktu yang lebih panjang para pembeli dapat mencari
barang pengganti yang mengalami kenaikan harga dan ini akan banyak mengurangi
permintaan terhadap barang yang disebutkan belakangan ini. Juga dalam jangka
panjang barang pengganti mengalami perubahan dalam mutu dan desainnya dan akan
menyebabkan orang lebih mudah pindah kepada membeli barang pengganti.
2. ELASTISITAS PENAWARAN
A. Pengertian
Elastisitas Penawaran
Elastisitas
merupakan perbandingan perubahan yang akan terjadi apabila satu atau hal yang
lain berubah. Dalam ilmu ekonomi, elastisitas adalah perbandingan perubahan
proporsional dari sebuah variabel dengan perubahan variable lainnya. Dengan
kata lain, elastisitas mengukur seberapa besar kepekaan atau reaksi konsumen
terhadap perubahan harga.
Dalam konsep
ini hal – hal yang dapat mempengaruhi elastisitas :
1. Seberapa
besar barang – barang yang menggantikan barang yang bersangkutan
2. Seberapa
besar dari pendapatan yang akan dibelanjakan untuk membeli barang yang
bersangkutan
3. Banyak
tidaknya macam penggunaan barang yang bersangkutan.
Sebagaimana
kita ketahui pada umumnya konsumen sensitive terhadap perubahan harga, tetapi
disisi lain produsenpun sensitive terhadap perubahan harga. Ketika terjadi
perubahan harga (baik harga naik atau harga turun) akan mempengaruhi keputusan
produsen dalam berproduksi. Ukuran kepekaan produsen terhadap perubahan harga
inilah yang disebut dengan Elastisitas Harga dari Penawaran atau sering disebut
Elastisitas Penawaran. Elastisitas penawaran (Es) diartikan sebagai derajat
kepekaan perubahan kuantitas barang yang ditawarkan yang disebabkan karena
perubahan harga barang itu sendiri. Pengertian lain, Elastisitas penawaran
sering diartikan sebagai perbandingan persentase perubahan kuantitas barang
yang ditawarkan dengan persentase perubahan harga barang itu sendiri.Untuk mengukur besar/kecilnya tingkat perubahan tersebut
diukur dengan angka-angka yang disebut koefisien elastisitas penawaran.
B. Faktor-Faktor
Yang Mempengaruhi Elastisitas Penawaran
Ada dua
faktor yang dikatakan sangat penting didalam menentukan elastisitas penawaran,
yaitu :
1. Kemampuan
penjual/produsen merubah jumlah produksi.
Ini
berkaitan dengan biaya dan kapasitas produksi. Penawaran akan cenderung tidak
elastis apabila salah satu dari hal-hal berikut terjadi :
Ø Biaya produksi untuk menaikkan jumlah penawaran besar.
Misalnya jika produksi saat ini telah mencapai skala ekonomis dan biaya
rata-rata minimal, maka penambahan satu unit produksi akan menambah biaya
rata-rata dan mengakibatkan produksi berada dalam skala tidak ekonomis.
Ø Kapasitas produksi telah terpakai penuh, sehingga
penambahan kapasitas akan memerlukan pabrik/mesin baru, misalnya, yang
membutuhkan investasi besar. Sementara penawaran akan cenderung elastis jika
yang terjadi adalah sebaliknya.
2.
Jangka waktu analisis.
Elastisitas penawaran juga
tergantung kepada waktu, apabila harga berubah, para ahli ekonomi membedakan
tiga waktu atau masa bagi produsen dalam rangka menyesuaikan jumlah barang yang
akan ditawarkan dengan perubahan harga tersebut. Adapun tiga waktu tersebut adalah:
1. Immediate
Run/ Momentary Period/ M,arket Period, suatu priode waktu yang sangat
pendek, dimana jumlah barang yang terdapat dipasar tidak dapat dirubah, yaitu
hanya sebanyak yang ada dipasar. Dalam waktu satu/beberapa hari saja semua
input tetap. Oleh karena itu, para produsen/penjual tidak dapat segera menambah
jumlah yang ditawarkan, meskipun konsumen bersedia membayar harga yang tinggi.
Jumlah barang yang ditawarkan tergantung dari banyaknya persediaan yang ada
pada saat itu. Pada jangka waktu yang sangat singkat, penjual/produsen tidak
dapat menambah penawarannya, sehingga penawaran menjadi tidak elastis sempurna.
2. The short run, Diartikan
jangka waktu yang cukup untuk memungkinkan para produsen menambah jumlah
produksinya dengan jalan menambah input variabel (dengan bekerja lebih
keras/lama, mempergunakan lebih banyak bahan dsb). Tetapi tidak cukup lama untuk
memperbesar kapasitas produksi yang ada (areal pertanian, modal tetap seperti
bangunan pabrik, mesin-mesin, dll). Dalam keadaan demikian penawaran dapat
elastis, dapat juga inelastis, tergantung jenis barang dan proses produksinya.
Kapasitas produksi tidak dapat ditambah dalam jangka pendek, namun perusahaan
masih dapat menaikkan produksi dengan kapasitas yang tersedia dengan
memanfaatkan faktor-faktor produksi yang ada. Hasilnya, penawaran dapat
dinaikkan dalam prosentase yang relatif kecil, sehingga penawaran tidak
elastis.
3. The long run, adalah
suatu priode waktu yang sangat panjang bagi perusahaan baru untuk masuk kedalam
pasar dan bagi perusahaan lama untuk membuat perencanaan untuk mengembangkan
perusahaan yang lebih memungkinkan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan
harga, bentuk kurva penawarannya lebih elastis. Dalam jangka waktu yang cukup
lama tersebut para produsen dapat menambah kapasitas produksi dengan menambah
modal tetap (pabrik baru, mesin-mesin, perluasan areal pertanian, dsb) untuk
menyesuaikan produksi dengan permintaan masyarakat.Makin lama jangka waktu,
makin elastis penawaran.Dalam jangka panjang, perkembangan teknik produksi di
sektor industri dan produksi secara besar-besaran malah dapat menyebabkan harga
turun, sehingga barang-barang yang dulu dipandang barang mewah dan mahal menjadi
barang kebutuhan biaya yang terbeli juga oleh orang banyak (misalnya, radio
transistor, kalkulator, dsb). Produksi dan jumlah penawaran barang lebih mudah
dinaikkan dalam jangka panjang, sehingga penawaran lebih bersifat elastis.
Selain itu juga terdapat faktor lain
yang mempengaruhi elastisitas penawaran yaitu Stok persediaan dan
Kemudahan substitusi faktor produksi/input.
Ø Stok
persediaan. Semakin besar persediaan, semakin elastis persediaan. Ini karena
produsen dapat segera memenuhi kenaikan permintaan dengan persediaan yang ada.
Ø Kemudahan
substitusi faktor produksi/input.Semakin tinggi mobilitas mesin (atau kapital
lainnya) dan tenaga kerja, semakin elastis penawaran. Semakin elastis mobilitas
kapital dan tenaga kerja, semakin mudah produsen memenuhi perubahan permintaan
yang terjadi. Ini karena kapital dan tenaga kerja ebih fleksibel, sehingga
dapat ditambah atau dikurangi sewaktu-waktu dibutuhkan.
C. Jenis-jenis
Elastisitas Penawaran
Berdasarkan
besar kecilnya tingkat koefisien elastisitas penawarannya, elastisitas
penawaran dapat dibedakan menjadi 5 (lima) macam yaitu:
a.
Penawaran Inelastis Sempurna (Es = 0
Penawaran
Inelastis Sempurna terjadi jika tidak ada perubahan jumlah yang
ditawarkan meskipun ada perubahan harga, atau ΔQs = 0, meskipun ΔP
ada. Secara matematis %ΔQs = 0, berapapun perubahan dalam %ΔP.Dengan kata lain
perubahan harga sebesar apapun sama sekali tidak berpengaruh
terhadap jumlah yang ditawarkan.Kasus penawaran inelastis dalam kenyataan agak
sulit ditemui dalam kehidupan sehari-hari, kalaupun ada biasanya
pada produk/barang-barang hasil pertanian misalnya jumlah
produksinya sudah tidak mungkin ditambah atau sulit ditambah
walaupun harga terus-menerus menaik. Sebagai contoh nya yaitu jumlah penawaran
kelapa di suatu daerah ketika musim kemarau sangat sedikit dan
tergantung/dipengaruhi dari faktor alam, walaupun harga tinggi makajumlah yang
ditawarkan tetap relatif terbatas.
b. Penawaran
Inelastis (Es < 1)
Penawaran
Inelastis kalau perubahan harga kurang begitu berpengaruh terhadap perubahan
kuantitas barang yang ditawarkan. Dengan kata lain kalau persentase perubahan
jumlah yang ditawarkan relatif lebih kecil dibanding persentase perubahan
harga. Secara matematis %ΔQs < %ΔP. Penawaran Inelastis atau sering disebut
Penawaran yang tidak peka terhadap harga, misal harga berubah naik 10% maka
perubahan penawarannya akan naik kurang dari 10%. Elatisitas penawaran kurang
dari satu biasanya terjadi pada barang-barang hasil pertanian, karena
barang-barang produk pertanian tidak mudah untuk menambah atau mengurangi
produksinya dalam jangka pendek.
c. Penawaran
Elastis Uniter (Es = 1)
Penawaran
Elastis Uniter kalau perubahan harga pengaruhnya sebanding terhadap perubahan
kuantitas barang yang ditawarkan. Dengan kata lain persentase perubahan jumlah
yang ditawarkan sama dengan persentase perubahan harga. Jadi kalau harga
berubah turun sebesar 10% maka kuantitas yang ditawarkan juga akan berubah
dalam hal ini akan turun sebesar 10%. Demikian juga kalau harga naik 10% maka
jumlah barang yang dtawarkan akan naik sebesar 10%. Secara matematis %ΔQd =
%ΔP. Penawaran yang elastis uniter atau elastis proporsional atau Es tepat = 1
sulit ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, kalaupun terjadi sebenarnya
hanyalah secara kebetulan.
d. Penawaran
Elastis (Es > 1)
Penawaran
Elastis kalau perubahan harga pengaruhnya cukup besar terhadap perubahan
kuantitas barang yang ditawarkan. Dengan kata lain persentase perubahan jumlah
yang ditawarkan relatif lebih besar dari persentase perubahan harga. Jadi kalau
harga turun 10% maka kuantitas barang yang ditawarkan akan mengalami penurunan
lebih dari 10%, dan sebaliknya kalau harga naik 10% maka kuantitas barang yang
ditawarkan akan mengalami kenaikkan lebih dari 10%. Secara matematis %ΔQd >
%ΔP. Penawaran yang elastis atau peka terhadap harga (Es >1) dapat ditemukan
dalam kehidupan sehari-hari biasanya terjadi pada barang hasil industri yang
mudah ditambah atau dikurangi produksinya.
e. Penawaran
Elastis Sempurna (Es = ∞ )
Penawaran
Elastis Sempurna terjadi jika ada perubahan jumlah yang ditawarkan meskipun
tidak ada perubahan harga, atau ΔQs = Ada perubahan, meskipun ΔP = 0. Secara
matematis %ΔQs = Ada, %ΔP = 0.Kasus penawaran elastis sempurna terjadi pada
bila penawaran suatu barang dapat berubah-ubah meskipun harga barang tersebut
tetap. Contoh kasus ini bisa terjadi pada berbagai produk, yang jelas kalau
penawaran akan produk tersebut bisa berubah-ubah walaupun harga produk itu
tetap, sehingga kurva penawarannya sejajar dengan sumbu X atau Q.

Kronologi :
Wacana kenaikan harga
rokok hingga Rp50.000 per bungkus berawal dari penelitian studi Pusat Kajian
Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas
Indonesia.
Dengan menaikkan harga
dua kali lipat, jumlah rokok yang dikonsumsi akan turun tetapi jumlah uang yang
beredar untuk rokok tetap naik. Maka pemerintah menerima tambahan uang cukai
sebesar Rp70 triliun, itu cukup untuk menutup defisit JKN. Hasil tersebut
konsisten dengan studi di negara-negara lain.
Penelitian sebelumnya
di Malaysia, Singapura, Inggris, Australia menunjukkan kalau orang dihadapkan
dengan kenaikan harga rokok dua kali lipat maka konsumsinya turun 30%. Dalam
ilmu ekonomi ini disebut elastisitas demand
Kebijakan kenaikan cukai rokok akan lebih efektif jika pada saat yang
sama ada larangan menjual rokok secara ketengan dan isi kemasan bungkus rokok
dibatasi minimal 20 batang.Sudaryatmo
Meski demikian, Wakil
Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Sudaryatmo, menilai sekadar menaikkan
harga rokok tak cukup untuk menurunkan jumlah perokok.
Kebijakan itu,
menurutnya, perlu dibarengi rangkaian kebijakan pendukung; antara lain
menyediakan terapi bagi masyarakat yang ingin berhenti merokok.
“Di satu sisi harga
rokok dinaikkan, di sisi lain pemerintah juga menyediakan alternatif bagi
masyarakat yang mau berhenti merokok berupa terapi gratis di klinik kesehatan.
Selama ini sudah ada, tapi jumlahnya terbatas,” kata Sudaryatmo.
Sudaryatmo mengakui
bahwa kenaikan harga rokok tak akan berdampak besar pada para perokok yang
sudah ketagihan. Meski demikian, ia berharap langkah itu dapat menekan angka
pertumbuhan perokok pemula.
“Kebijakan kenaikan
cukai rokok akan lebih efektif jika pada saat yang sama ada larangan menjual
rokok secara ketengan dan isi kemasan bungkus rokok dibatasi minimal 20
batang,” tambah Sudaryatmo.
Hasil Analisa :
Secara
sederhana, pengaruh pajak terhadap keseimbangan antara fungsi permintaan dan
fungsi penawaran dapat ditunjukkan dalam grafik berikut:
Apabila kurva S = f (q)
= a + bq menggambarkan fungsi penawaran sebelum dikenai pajak dan kurva D = f
(q) = a - bq menggambarkan fungsi permintaan maka titik pertemuan antara kurva
permintaan dan kurva penawaran berada pada titik A. Jika atas barang ini
dikenai pajak sebesar t maka terjadi kenaikan harga yang menyebabkan kurva
penawaran akan bergeser menjadi kurva St = f(q) = a + bq + t sehingga akan
didapatkan titik keseimbangan baru antara kurva permintaan dan kurva penawaran
di titik B. Dengan menganggap faktor lain yang mempengaruhi permintaan dan
penawaran rokok adalah tetap (ceteris paribus) maka terlihat jelas bahwa dengan
adanya pengenaan pajak mengakibatkan kenaikan harga sehingga menurunkan jumlah
permintaan akan barang tersebut.
Permintaan akan rokok
bersifat inelastis, dimana besarnya penurunan konsumsi rokok lebih kecil dari
pada peningkatan harganya karena rokok adalah barang yang menimbulkan kecanduan
bagi pemakainya. Namun demikian menurut Ahsan dan Tobing sebagaimana dikutip
dalam buku fakta tembakau menyimpulkan bahwa peningkatan 10% harga rokok akan
menurunkan konsumsi rokok perokok termiskin sebanyak 16% sedangkan untuk
perokok terkaya hanya akan turun 6%. Perokok termiskin lebih sensitif terhadap
harga dibandingkan dengan perokok terkaya sehingga kebijakan peningkatan harga
rokok melalui peningkatan pajak akan melindungi penduduk termiskin dari
kecanduan dan perangkap konsumsi rokok.[8]
Salah satu peran aktif
pemerintah dalam mempengaruhi harga rokok dapat dilakukan dengan menaikkan
tarif efektif PPN dan tarif cukai atas rokok terutama bagi pabrikan rokok kecil
yang tarif cukainya masih rendah. Dengan adanya kenaikan tarif efektif PPN dan
cukai rokok ini akan meningkatkan besarnya pajak yang dikenakan atas rokok
sehingga harga jual rokok akan meningkat. Dengan meningkatnya harga rokok maka
para konsumennya terutama keluarga miskin perokok akan mengurangi konsumsi
rokok sebagai reaksi atas kenaikan harga tersebut sehingga kebijakan
pengurangan konsumsi rokok di masyarakat dapat tercapai.
BAB III : PENUTUP

Pemerintah
sebagai penentu kebijakan dapat menggunakan pajak sebagai alat untuk mencapai
tujuan tertentu termasuk di dalamnya untuk pengendalian pola konsumsi rokok di
dalam negeri. Salah satu kebijakan yang dapat ditempuh pemerintah adalah
menaikkan tarif efektif PPN dan cukai rokok. Kenaikan tarif efektif PPN dan
cukai rokok akan mengakibatkan harga rokok meningkat sehingga mengikuti hukum
permintaan, ketika harga rokok naik maka akan menurunkan jumlah permintaan
rokok di masyarakat utamanya konsumen kalangan keluarga miskin perokok.
§ Daftar Pustaka
o Adji,Wahyu.2007. Ekonomi.
Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama
o Putong,iskandar.
2010. Economics Pengantar Mikro dan Makro. Edisi 4. Jakarta:Mitra
Wacana Media
o Raharja,pratama.
2008. Pengantar Ilmu Ekonomi. Edisi 3. Jakarta: Lembaga penerbit
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
o Rasyidi,suherman.
2009. Pengantar Teori Ekonomi. Cetakan 8. Jakarta: Raja Wali pers
o Soeharno.2006. Teori
Mikro Ekonomi. Surakarta: Penerbit Andi
o Sukirno,Sadono.2011. Mikro
Ekonomi Pengantar Teori. Edisi 3, Cetakan 26. Jakarta: PT.Raja Wali Pers
o
http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/08/160822_indonesia_rokok_naik
Komentar
Posting Komentar